BAGAIMANA MAHASISWA HARI INI?

sumber gambar: google

 

           Lembaga kemahasiswaan adalah salah satu  dari sekian banyak wadah yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam peningkatan pengetahuannya. Mahasiswa yang tergabung dalam lembaga kemahasiswaan pasti sudah banyak mengetahui dan membaca sejarah pergerakan mahasiswa baik pada masa penjajahan, orde lama, orde baru dan reformasi. Sejarah telah merekam semua peristiwa-peristiwa tersebut, mulai dari lahirnya boedi oetomo, sumpah pemuda, gerakan mahasiswa tahun 1945, gerakan mahasiswa masa orde lama, serta yang paling heroik gerakan mahasiswa 1996 yang berhasil menurunkan pemerintahan yang otoriter pada masa itu. Lantas apa yang mahasiswa sekarang harus banggakan ketika kita berbicara betapa heroiknya dan berjayanya pergerakan mahasiswa dulu. Kita tidak bisa memungkiri bahwa mahasiswa dulu dan sekarang itu beda. Beda masa beda cerita, setidaknya begitulah gambarannya. Kalau dulu musuhnya penjajah, pemimpin yang otoriter, para penguasah serakah, serta aparat yang kejam sedangkan hari ini musuh mahasiswa siapa? Siapa yang harus dilawan mahasiswa hari ini? Kepada siapa mahasiswa harus berpihak?

            Mahasiswa hari ini memang susah dimengerti. Sekarang demo turun kejalan menyuarakan kegelisahan-kegelisahan yang mereka rasakan dan mengatasnamakan kepentingang masyarakat, besok hilang entah kemana seakan kegiatan itu hanya ceremony belaka. Perubahan-perubahan inilah yang sangat terasa. Para tentara dan intel-intel tidak lagi masuk kekampus, mengikuti gerak-gerak aktivitas mahasiswa. Rasa ketakutan itupun hilang, sehingga seharusnya mahasiswa bisa bernafas lega. Mahasiswa sekarang bebas menyuarakan pendapatnya tanpa ada intervensi lagi dari pihak manapun. Hal inilah yang harus dimanfaatkan mahasiswa untuk meningkatkan pengetahuannya dan mengembangkan dirinya serta mendorong diri mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran-kebenaran yang lahir dari suara-suara masyarakat tertindas. Ditambah lagi dengan pesatnya perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi diera sekarang banyak membantu mahasiswa dalam memperoleh pengetahuan dan menyuarakan kebenaran dari suara kaum tertindas.

             Namun kenyataanya seiring berkembangnya waktu dan zaman membuat mahasiswa terlena akan perkembangan teknologi yang pesat dan tidak dapat terbendung hingga membuat mahasiswa menjadi serta merta mengikuti arus yang ada tanpa menjaring terlebih dahulu informasi yang didapatkannya. Hal ini membuat seakan-akan kampus menjadi miskin intelektual. Tumuh subunya perguruan tinggi dan mahasiswa, berapakah yang mampu membawa perubahan? Ketika masing-masing dari mereka hanya berjalan pada alurnya masing-masing. Semakin sedikit mahasiswa yang peduli akan keadilan. Mahasiswa dihantui akan rasa takut. Takut akan ini dan itu, ketakutan yang sebenarnya bersumber dari diri mahasiswa sendiri.

             Ketakutan menjadi pemicu tak pedulinya mahasiswa akan kondisi dirinya dan kondisi sekitarnya. Berusaha menghindari kemungkinan terburuk dan masuk kedalam zona yang aman. Ditambah lagi birokrat kampus dengan kebijakannya yang harus ditaati, yang secara langsung berdampak pada mahasiswa. Segala hal yang yang tak sejalan dengan regulasi birokrat kampus akan dibatasi. Memaksa mahasiswa harus pada atas kebijakan-kebijakan para petinggi kampus. Keinginan dari lahirnya reformasi yang belum berjalan sepenuhnya, membuat mahasiswa dipaksa menjauhkan diri dari ranah politik melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh birokrat kampus. Mahasiswa dilarang berpolitik. Kebebasan berpikir mulai dikekan oleh kebijakan yang ada. Mahasiswa harus belajar agar cepat lulus. Mahasiswa harus harus mengikuti keinginan para pemangku kebijakan kampus. Aktivitas mahasiswa melalui lembaga kemahasiswaan harus dibatasi secara perlahan dengan aturan-aturan yang tiap tahunnya berubah sesuai dengan kepentingan dan keinginan mereka sang pemangku kebijakan kampus agar apa yang mereka inginkan tidak dihalangi oleh pergerakan-pergerakan mahasiswa. Kegiatan mahasiswa hanya diarahkan pada kegiatan minat dan bakat, kerohanian dan penalaran semata saja. Jika sadar akan kondisi tersebut, kebijakan kampus sekarang menjauhkan mahasiswa melihat realitas yang terjadi disekitarnya, dampaknya bisa dilihat sekarang, mahasiswa berlomba-lomba membuat kegiatan besar dan keren dengan mengeluarkan dana yang cukup besar dan mati-matian mengumpulkan dana untuk mendatangkan artis-artis sebagai hiburan perlu kita ketahui lembaga kemahasiswaan bukan event Organize. Hal ini juga menjadi ajang gengsi antar lembaga dengan berlomba-lomba membuat kegiatan yang besar ketimbang harus sibuk mengawal isu –isu disekitar kampus dan yang sedang berkembang dimasyarakat.

              Mahasiswa mencoba menanamkan nilai melalui proses pengaderan, tetapi proses yang sifatnya baik tersebut masih harus diatur oleh birokrat. Lantas dimana kebebasan yang didapatkan mahasiswa ketika semuanya masih harus diatur hingga internal lembaga pun harus diatur birokrat kampus. Mahasiswa tidak bisa terus menerus mengikuti arus yang dibuat oleh pemangku kebijakan melalui kebijakan-kebijakan yang mereka keluarkan. Mahasiswa harus sadar apa yang keliru. Mahasiswa harus mampu melihat kondisi yang ada disekitarnya. Mari kita refleksikan diri kita sendiri, dimana posisi kita sebagai mahasiswa hari ini. Kita harus sadar apa yang sedang kita lakukan hari ini. Ruang-ruang diskusi harus terus hidup agar kita tahu apa yang harus dan sebenarnya kita perbuat. Silahkan memilih kemana kita memandang. Biarkan dirkursus-dirkursus ramai tercipta di kampus. Tidak aka nada yang melarang kita sebagai mahasiswa untuk menjadi apa yang diinginkan yang jelas tujuannya jelas, untuk menghilangkan segala bentuk penindasan. Jangan biarkan diri kita menutup mata, telinga dan mulut atas semua yang ada disekitar kita. Karena ketidak pedulian adalah lawan mahasiswa hari ini.

 

Penulis,

 

MFH.

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top