SOCRATES

sumber foto : google

 

Negara bertugas untuk menciptakan hukum, yang harus dilakukan oleh para pemimpin, atau para penguasa yang dipilah secara saksama oleh rakyat. Keadilan merupakan tujuan politik yang layak dan Negara sebagai lembaga politik memiliki tujuan untuk mencapai kebaikan.

“Jadi seperti itu, kebijaksanaan yang sebenarnya datang kepada kita ketika kita menyadari betapa sedikitnya kita mengerti tentang hidup, diri kita, dan dunia di sekitar kita.”

Socrates adalah seorang filsuf di era filsafat kuno yang berasal dari Athena, Yunani. Dia hidup sekitar 469 S.M – 399 S.M. Pada awalnya Socrates adalah guru dari Plato, dan generasi selanjutnya, Plato menjadi guru dari Aristoteles. Socrates sendiri selama hidupnya tidak pernah meninggalkan buah pemikirannya dalam bentuk karya tulis apapun. Sosoknya justru lebih dikenal dari sumber literatur yang ditulis oleh muridnya, Plato, dimana Socrates hampir selalu menjadi tokoh utamanya. Socrates lahir sekitar 469 S.M, diperkirakan ayah Socrates adalah seorang pemahat patung batu (Stone Mason) bernama Sophroniskos dan ibunya adalah seorang bidan bernama Phainarete. Dari profesi ibunya inilah Socrates nantinya menamai metode berfilsafatnya sebagai metode kebidanan. Socrates juga memiliki tiga orang anak dari istrinya yang bernama Xantippe. Penampilan Socrates dikenal dengan seorang yang tidak tampan, dengan pakaian sederhana, dan tanpa alas kaki berkeliling mendatangi orang-orang Athena untuk berdiskusi tentang filsafat. Pada awalnya ini dilakukannya untuk memastikan suara gaib yang didengar temannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates.

Merasa tidak memiliki sesuatu apapun yang dapat dikatakan bijak dalam dirinya, Socrates berkeliling mencari orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu dan mengajaknya berdiskusi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode inilah yang oleh Socrates disebut sebagai metode kebidanan, dimana dia menganalogikan dirinya sebagai bidan yang membatu kelahiran sebuah pikiran melalui proses dialektik yang panjang dan mendalam, sama seperti seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi. Yang dikejarnya dari proses diskusi tersebut adalah sebuah definisi absolut tentang satu masalah meskipun seringkali orang yang diajaknya berdiskusi gagal mencapai definisi tersebut. Karena caranya berfilsafat inilah Socrates menerima kebencian dari orang-orang yang diajaknya berdiskusi, karena setelah proses dialektik Socrates mereka lewati, maka terlihatlah bahwa apa yang sebenarnya merika pikirkan benar-benar mereka tidak ketahui kebenarannya. Kejadian inilah yang pada akhirnya mengantarkan Socrates pada peradilan yang mengakhiri masa hidupnya atas tuduhan merusak generasi muda. Sebuah tuduhan yang sebenarnya dengan gampang dapat dipatahkannya melalu pembelaan sebagaimana tertulis dalam Apologi karya Plato. Socrates wafat pada usia tujuh puluh tahun (atau tujuh puluh satu) dengan meminum racun, sebagaimana keputusan pengadilan yang diterimanya dimana 280 orang mendukung dihukum matinya Socrates dan 220 orang liannya menolak. Dalam Krito, Socrates diceritakan sebenarnya dapat lari dari penjara dan menghindari hukuman mati dengan bantuan dari sahabat-sahabatnya, namun dia menolak. Alasannya karena dia terikat pada sebuah “kontrak” kepatuhan hokum yang sama seperti semua orang di Athena, maka menurutnya dia harus tetap menjalani hukuman matinya tanpa perlu menghindar. Keberaniannya dalam menghadapi maut ini digambarkan oleh Plato dalam karyanya yang berjudul Phaedo dengan sangat indah. Kematian Socrates ditangan ketidakadilan peradilan ini menjadi salah satu peristiwa peradilan paling bersejarah dalam masyarakat barat selain peradilan atas Yesus Kristus.

Pemikiran Socrates tentang Negara adalah bahwa Negara bukanlah organisasi yang dapat dibuat oleh manusia untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi merupakan jalan susunan objektif berdasarkan pada hakikat manusia sehingga bertugas menjalankan peraturan-peraturan yang objektif mengandung keadilan dan kebaikan bersama atau umum, tidak hanya melayani kebutuhan penguasa yang berganti-ganti orangnya. Menurut Socrates negara bukanlah semata-mata merupakan suatu keharusan yang bersifat objektif, yang asal mulanya berpangkal pada pekerti manusia. Sedang tugas negara adalah untuk menciptakan hukum, yang harus dilakukan oleh para pemimpin, atau para penguasa yang dipilah secara saksama oleh rakyat. Disinilah tersimpul pikiran demokratis dari pada Socrates. Ia selalu menolak dan menentang keras apa yang dianggapnya bertentangan dengan ajarannya yaitu menaati undang-undang.

Negara bukanlah suatu organisasi yang dibuat untuk manusia demi kepentingan dirinya pribadi, melainkan negara itu suatu susunan yang objektif bersandarkan kepada sifat hakekat manusia karena itu bertugas untuk melaksanakan dan menerapkan hukum- hukum yang objektif, termuat “keadilan bagi umum”, dan tidak hanya melayani kebutuhan para penguasa negara yang saling berganti ganti orangnya. Pemikiran seperti ini bisa menjadi modal untuk menegakkan keadilan,karena menurut Socrates keadilan merupakan tujuan politik yang layak dan Negara sebagai lembaga politik itu sendiri memiliki tujuan untuk mencapai kebaikan.

 

Penulis,

 

MFH

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top