ARISTOTELES

sumber foto: google

 

“Negara merupakan institusi moral yang ada untuk membantu manusia mencapai kesempurnaannya dan bahwa negara yang benar berupaya menciptakan kesejahteraan bagi semua dan bukan hanya untuk kebaikan sekelompok saja.” (Politics)

Aristoteles lahir 384 SM di Stageira suatu kota di Yunani Utara. Berarti kalau kita hitung, Aristoteles hidup pada hampir 2400 tahun yang lalu. Ya, Aristoteles lahir puluhan abad yang lalu dan meninggal pada 322 SM,  yakni ketika ia berumur 61 atau 62 tahun. Kala itu, Aristoteles dikatakan tengah berada di pembuangan karena didakwa kurang ajar terhadap dewa. Ayah Aristoteles bernama Nicomachus, ialah seorang dokter Raja Amynta dari Macedonia. Sejak kecil Aristoteles dididik sebagai aristokrat hingga ia berumur 13 tahun, dan beberapa tahun kemudian melanjutkan pendidikannya di Akademia Plato. Ia menikah dengan Pythias pada masa pengembaraannya sepeninggal Plato. Namun sayanya, Pythias tak lama kemudian meninggal. Aristoteles akhirnya menikah lagi dengan Herpyllis yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Nicomachus. Aristoteles mulai berguru pada Platoketika berumur 17 tahun, yakni dengan mulainya ia belajar pada Akademia yang didirikan Plato. Kemudian, saat plato meninggal pada 345 SM, Aristoteles yang telah belajar dan menjadi pengajar di Akademia selama 20 tahun di Akademia memilih untuk pergi mengembara. Awal pengembaraan Aristoteles adalah pengembaraannya menuju Asia bersama temannya,Xenocrates. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya bersama salah seorang temannya yang lain, Theophratus menuju kepulauan Lesbos, yang kemudian disana mereka mulai mengadakan Riset dan Zoologi.

Negara menurut Aristoteles diibaratkan dengan tubuh manusia, negara lahir dalam bentuk yang sederhana kemudian berkembang menjadi kuat dan sederhana, setelah itu hancur dan tenggelam dalam sejarah.  Negara terbentuk karena manusia yang membutuhkan Negara, manusia adalah makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain, hubungan saling ketergantungan antara individu dengan masyarakat. Menurut Aristoteles, negara adalah lembaga politik yang paling berdaulat, bukan berarti lembaga ini tidak memiliki batasan kekuasaan. Tujuan terbentuknya negara adalah untuk kesejahteraan seluruh penduduk atau rakyat bukan kesejahteraan individu. Negara yang baik menurut Plato adalah negara yang dapat mencapai tujuan-tujuan negara. Sementara negara yang tidak dapat melaksanakan tujuan-tujuan tersebut maka adalah negara gagal. Idealnya menurut Aristoteles monarki sebagai negara ideal, karena ia diperintah oleh seorang filsuf, arif dan bijaksana. Kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi Aristoteles menyadari sistem monarki nyaris tak mungkin ada dalam realitas, adanya gagasan yang lahir bersifat normative  yang sangat sukar diwujudkan dalam dunia emperis. Oleh karena itu demokrasi menurut Aristoteles, dari tiga bentuk negara itu yang bisa diwujudkan dalam kenyataan.

Negara idealnya menurut Aristoteles adalah negara dengan sistem monarki, karena ia diperintah oleh seoarang filusuf, arif dan bijaksana. Kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat. Tapi Aristoteles menyadari sistem monarki nyaris tak mungkin ada dalam realitas, ia hanyalah berupa gagasan yang lahir dan bersifat normatif  yang sangat sukar diwujudkan dalam dunia emperis. Oleh karena itu demokrasi menurut Aristoteles dari tiga bentuk negara itu yang bisa diwujudkan dalam kenyataan. Berbeda dengan Plato yang tidak bersifat realistik ketimbang Aristoteles, Aristoteles membenarkan adanya hak milik individu, hak milik penting untuk memberikan tanggung jawab bagi seseorang untukmempertahankan kelangsungan kehidupan sosial.  Jadi menurut aristoteles, yang paling baik dan sangat realistis ialah bila mana pemegang kekuasan itu terdiri dari banyak orang yang berasal dari kelas menengah yaitu mereka yang telah memanggul senjata dan yang takut pada hukum.

 

Penulis,

 

MFH.

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top