Kampus dan Politik

Kampus merupakan lembaga penyelenggara pendidikan guna mencapai cita-cita bangsa yang tertuang dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai hal tersebut penyelenggaraan pendidikan harus terlepas dari kepentingan-kepentingan segelintir orang yang ingin mengambil keuntungan dari penyelenggaraan pendidikan. Keberadaan kampus sangatlah penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara melalui penerapannya dalam TriDharma perguruan tinggi yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian terhadap masyarakat. Maka dari itu kampus harus menjadi pemberi sumbangan pemikiran dalam ranah kajian akademiknya untuk kemajuan bangsa dan bernegara. Sehingga kampus dapat menjadi andalan untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran yang sifatnya membangun dan objektif untuk kepentingan masyarakat. Namun masih layak kah kampus hari ini mengemban tugas tersebut? Ditengah banyaknya pemberitaan tentang netralitas kampus menyikapi proses perpolitikan yang sedang berlangsung saat ini. Ditambah lagi tahun 2018 adalah tahun politik dimana akan diadakannya pilkada serentak di 171 daerah di seluruh Indonesia serta proses pencalonan presiden dan wakil presiden dimulai pada tahun 2018. Masih kah kampus menjadi mitra kritis pemerintah dalam membangun bangsa dan Negara serta menjadi mitra kerja pemerintah dalam membuat gagasan-gagasan baru dalam penentuan kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat banyak.

Keterlibatan masyarakat kampus dalam hal ini para akademisi dosen ataupun mahasiswa dalam dunia politik praktis yang pragmatis membuat citra kampus menjadi buruk dimata masyarakat. Namun sebelum lebih jauh membahas kenapa hal itu terjadi kita perlu tahu, bahwa dalam dirkursus ilmu politik, tema politik tidak selalu berkonotasi buruk, sebagaimana yang sering masyarakat umum dengar. Melainkan politik adalah sebuah seni dalam mencapai suatu tujuan untuk kebaikan banyak orang. Dalam tulisan ini akan banyak menyinggung mengenai politik praktis dimana masyarakat memiliki persepsi berbeda dalam menerjemahkan politik praktis. Masyarakat sering menganggap politik praktis adalah hal yang buruk, dalam kerangka teoritis politik dapat diartikan sebagai usaha yang ditempuh oleh warga Negara untuk mewujudkan kebaikan bersama, ini dari pandangan filsuf besar Yunani Aristoteles. Sedangkan politik praktis merupakan penerapan dari teori politik tersebut. Ini lah yang sering disalah artikan oleh masyarakat, presfektif masyarakat tentang politik praktis yang berkonotasi negative yang hanya berorientasi kepada pemuasan kepentingan pribadi atau kelompok, penulis lebih mengindikasikan persfektif masyarakat ini kearah politik pragmatis. Walaupun pengertian tersebut yang penulis paparkan hanya merupakan pandangan subjektif. Tetapi yang pasti, pandangan tersebut didasarkan atas pengamatan kondisi realitas yang ada di masyarakat. dimana seseorang mempertaruhkan harga diri, waktu, tenaga, dan materi untuk mencapai apa yang diinginkan.

Ditengah persoalan dan tantangannya yang dihadapi kampus, perguruan tinggi semestinya memposisikan diri sebagai mitra kritis dan kerja bagi pemerintah dalam membangun dan menentukan kebijakan dalam masyarakat. Maka dari itu para akademisi intelektual dan mahasiswa dalam lingkup kampus harus menjaga diri, tidak terlibat politik pragmatis dalam mendukung salah satu calon yang berlaga dalam kontestasi politik hanya karena kepengtingan pribadi. Kampus haruslah menjadi penggerak dalam peningkatan kesejahteraan rakyat melalui kerja nyata dibidang pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat serta menjadi perekat bangsa untuk mempersatukan berbagai kepentingan yang ada demi menjaga keutuhan Negara kesatuan republik Indonesia dan memperkuat kesatuan antar masyarakat. Persoalan yang di rasakan oleh kampus saat ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses politik. Tetapi sebagai lembaga yang netral kampus harus disterilkan dari politik pragmatis. Pandangan atas moral dan intelektual serta arahan untuk kebaikan penyelenggaraan Negara dan kesejahteraan rakyatlah yang dibutuhkan. Bukannya mendukung secara terang-terangan salah satu pasangan calon hingga membawa-bawa attribute kampus. Sebab hal tersebut merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap wibawa perguruan tinggi dan pendidikan di Indonesia. Bayangkan jika kampus dalam hal ini para akademisinya dan mahasiswa mendukung secara terang-terangan salah satu calon dan dikemudian hari calon tersebut terjerat kasus yang akhirnya mempidankan dirinya semisal tindak pidana korupsi, maka pandangan pandangan masyarakat terhadap kampus sebagai institusi pendidikan tinggi akan berubah menjadi ketidak percayaan pada kampus dan secara umum kepada pendidikan nasional. Inilah mengapa politik pragmatis sangat dilarang didalam kampus, karena sejatinya kampus merupakan pusat dari pendidikan yang menjadi harapan besar masyarakat dalam melahirkan pemimpin-pemimpin yang bisa membawa Indonesia kearah yang lebih baik. Lantas apakah para akademisi dan mahasiswa dilarang berpolitik praktis ?, tentu tidak. Semua orang bisa berpolitik dan hal tersebut sesuai dengan tujuan demokrasi dimana diatur dalam undang-undang. Namun dalam konteks ini melibatkan kampus dan instansi pendidikan dalam melakukan praktik politik tidak bisa dibenarkan sebab dalam aturan pemilu sendiri sudah dijelaskan bahwa dilarang melakukan kampanye ditempat pendidikan. Sudah sepatutnya mahasiswa dan para akademisi untuk mendewasakan diri melihat kondisi sekitarnya dan berpikir luas untuk kepentingan masyarakat umum. Kesadaran mahasiswa akan dirinya sebagai bagian dari agen perubahan, agen control, dan agen social. Sangat disayangkan mahasiswa sebagai pengagas, pengabdi, dan penyambung lidah masyarakat diam tanpa kata melihat berbagai macam permasalahan yang ada disekitarnya. Mahasiswa harus menjadi penyeimbang dalam kehidupan bernegara, satu sisi berperan sebagai kritik bagi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat dan dilain sisi sebagai pemberi solusi dan saran alternative bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakannya.

 

Penulis,

 

MFH.

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top