SEKILAS TENTANG PTN-BH : PTN BIASA DENGAN PTN-BH, APA BEDANYA?

Universitas Hasanuddin adalah salah satu pergurruan tinggi negeri yang ada di Indonesia, perguruan tinggi negeri artinya perguruan tinggi dibawah naungan pemerintah. Sejak berdirinya Universitas Hasanuddin sebagai perguruan tinggi pada tahun 1956 sampai sekarang sudah banyak lulusan-lulusan unhas yang menjadi tokoh-tokoh hebat diberbagai bidang yang ada, sebut saja salah satunya wakil presiden kita hari ini bapak Jusuf Kalla yang adalah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin. 61 tahun sudah Universitas Hasanuddin berdiri tetapi masyarakat banyak hanya mengetahui bahwa Universitas Hasanuddin adalah perguruan tinggi negeri. Hanya sedikit yang tahu ternyata Universitas Hasanuddin bukan sekedar perguruan tinggi negeri saja atau biasa disebut PTN saja tetapi Universitas Hasanuddin sudah berganti status sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum atau lebih akrab bagi kalangan mahasiswa menyebutnya PTN-BH. Yah, sekarang Universitas Hasanuddin sudah bersatatus PTN-BH. Lantas apasih PTN-BH itu? PTN-BH adalah singkatan dari Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. Perguruan tinggi yang berstatus PTN-BH adalah perguruan tinggi yang didirikan oleh pemerintah yang berstatus sebagai badan hukum publik yang otonom. Dulunya dikenal sebagai PTN BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Status BHMN sendiri sudah ada sejak tahun 2000 dengan sejumlah PTN yang memiliki gelar tersebut. Empat Perguruan Tinggi Negeri yang pertama kali menyandang status BHMN dulu adalah UI, UGM, IPB, dan ITB. Dengan menyandang status BHMN, perguruan tinggi tersebut memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri. Sementara itu, PTN yang tidak memiliki status BHMN/BH tidak memiliki otoritas dalam menentukan anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri. Setelah mengalami berbagai perubahan nama, BHMN pun diputuskan pada tahun 2012 berdasarkan Undang-Undang nomor 12 tentang Pendidikan Tinggi, menjadi PTN-BH.

Status PTN-BH telah diterima 11 perguruan tinggi. Tak sembarangan, pemerintah menerapkan persyaratan ketat bagi perguruan tinggi yang berhak menyandang gelar tersebut. Berbagai indikator ditetapkan, di antaranya perguruan tinggi bersangkutan harus masuk dalam peringkat sembilan besar nasional dalam publikasi internasional dan paten, telah berakreditasi “A” oleh BAN-PT, opini keuangan Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) selama dua tahun berturut-turut, serta perolehan prestasi kegiatan kemahasiswaan di level internasional. Lantas apa bedanya PTN-BH dengan PTN biasa? PTN-BH merupakan Perguruan Tinggi Negeri yang memiliki otonomi penuh dalam mengatur anggaran rumah tangga dan keuangan perguruan tinggi itu sendiri. Sedangkan, perguruan Tinggi Negeri yang tidak memperoleh status PTN-BH maka tidak memiliki otoritas dalam menentukan anggaran rumah tangga dan keuangannya sendiri, melainkan diatur oleh pemerintah. Dan salah satu keuntungan perguruan tinggi dengan status PTN-BH yang saya tahu mereka bebas membuka dan menutup prodi yang ada pada Perguruan Tinggi tersebut. PTN-BH menetapkan tarif biaya pendidikan berdasarkan pedoman teknis yang ditetapkan langsung oleh menteri. Jadi, dalam menetapkan biaya pendidikan, PTN-BH wajib berkonsultasi langsung dengan menteri, berdasarkan pertimbangan keuangan mahasiswa, gaji orang tua, atau kemampuan pihak lain yang membiayai mahasiswa, dari penjelasan diatas terlihat sangat jelas perbedaan dari PTN-BH dengan PTN biasa. Lantas bagaimana dengan Universitas Hasanuddin sekarang yang telah menerima status PTN-BH? Pertanyaan ini patut kita diskusikan dan telaah lebih jauh. Apa dengan diterapkannya PTN-BH di Universitas Hasanuddin tidak mempunyai dampak apa-apa, tulisan saya selanjutnya akan membahasnya lebih jauh lagi.

 

Penulis,

 

MFH.

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top