Pecah Belah di Balik Persatuan

Ekspansi penaklukan daerah yang dilakukan oleh Eropa pada abad 17-an menjadi saksi bahwa sumber daya alam adalah segala-galanya. Dimulai dari sekutu Spanyol saat menaklukan suku Indiana di Amerika latin di abad 15. Berkembang menuju asia pasifik, bahkan sampai di titik Maluku pada saat itu. Setelah semuanya diduduki, kekuasaan menjadi hal yang harus dijaga seutuhnya. Dari situlah strategi mempertahankan kekuasaan bermula. Pada saat Eropa memutuskan mengekspansi daerah kekuasaannya, hal pertama yang dilakukan adalah mengetahui kondisi daerah tersebut. Ekonomi, politik, serta sosial menjadi hal fundamental yang harus diketahui sebelum menduduki daerah tersebut. Namun hal itu tidak berjalan lancar. Beberapa daerah yang telah menjadi kekuasaan Eropa pada saat itu melakukan pemberontakan. Pemberontakan yang dilakukan pun melibatkan hampir seluruh masyarakat daerah tersebut. Hal ini membuat pemimpin Eropa pada saat itu melakukan strategi perlawanan secara horizontal pada masyarakat tersebut dengan memecah belah. Sentimental yang dilakukan oleh Eropa membuat kekuatan masyarakat yang ia duduki menjadi lemah. Hal ini berarti bahwa, dalam mempertahankan atau merebut kekuasaan, pengontrolan terhadap masyarakat yang diduduki harus bersifat total. Hal ini juga berlaku pada saat perang. Konflik secara horizontal sangat mampu memicu peperangan di berbagai daerah. Dan saat itu pula pengontrolan kekuasaan menjadi sangat mudah untuk terus dimiliki

Sejak saat itu, politik pecah belah (devide et impera) menjadi salah satu strategi politik yang digunakan untuk mempertahankan atau merebut kekuasaan. Strategi ini menjadi strategi yang sering digunakan di kalangan otoritarian. Para pemimpin diktator sepakat bahwa memimpin dengan waktu yang sangat lama dengan kedaulatan yang diterima oleh seluruh masyarakat adalah cita-cita terbesar bagi setiap pemimpin. Terlepas apa yang terjadi pada masyarakat, jika itu tidak memicu keruntuhan dalam menguasa, itu bukan hal yang penting untuk ditaktisi. Maka dari itu, hal yang paling dicegah oleh pemimpin yang menjunjung tinggi kekuasaan adalah bersatunya masyarakat untuk memboikot, mengguling, bahkan mengkudeta kepemimpinannya. Karena hal itu adalah mimpi buruk bagi tiap pemimpin.

Dalam mencegah bersatunya pahaman masyarakat dalam menentang sang penguasa, hal yang dilakukan ialah memecah belah. Baik secara halus maupun secara frontal. Secara halus yang dimaksud ialah meminimalisir fasilitas untuk masyarakat. Memang benar bahwa kesejahteraan masyarakat harus diutamakan, namun bagi penguasa, kedaulatan adalah segala-segalanya. Bukan menjadi masalah besar jika akses pendidikan masyarakat bobrok, kemiskinan dimana-mana, terisolasinya masyarakat, selama kesadaran akan sebuah revolusi tidak sampai kepada dirinya, itu bukan sebuah bencana bagi seorang penguasa. Apalagi jika masyarakat itu tetap melakukan pekerjaan yang seadanya demi menghidupi diri dan tetap patuh pada aturan negara, maka negara itu bisa dikatakan baik-baik saja.

Namun jika tercium pergerakan perlawanan dari segelintir masyarakat yang dapat memicu sebuah revolusi, maka politik pecah belah secara frontal harus dilaksanakan. Secara frontal yang dimaksud ialah isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) dimainkan dengan begitu apik oleh penguasa. Mengadu domba sekelompok masyarakat dengan masyarakat lainnya, membuat konflik besar-besaran, atau dengan genosida sekalipun membuahkan hasil yang memuaskan untuk sang penguasa dalam menjalankan kedaulatannya. Inilah yang dimaksud dengan politik pecah belah. Meskipun rakyat menduduki daerah kekuasaan dengan bersama-sama, selama mereka tidak bersatu, maka kejayaan hanyalah sebuah angan-angan.

Inilah alasan Suharto jatuh, inilah alasan Gorbachev jatuh, inilah alasan Arab Spring terjadi, inilah alasan para pemimpin yang sudah menjalankan peraturan di atas jatuh: mereka meremehkan kekuatan masyarakat. Jika kalian memiliki niat untuk berkuasa, kendalikan bahasa negaramu agar masyarakat tidak punya literasi yang cukup untuk berpikir kritis, kendalikan agama negaramu agar masyarakat tidak punya aspirasi untuk mengejar kehidupan duniawi di perpolitikan negaramu, kendalikan ras negaramu agar masyarakat bisa bertengkar antar sesama untuk tidak berpikir akan ketamakanmu sebagai pemimpin, kendalikan semua hal yang berpotensi untuk membekukan kekuatan masyarakat dalam menjatuhkan kedaulatanmu.

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top