PEN”DIDIK”AN; Memanusiakan Manusia (?)

Noam Chomsky (salah satu pemikir terbesar dunia) menulis di dalam bukunya yang berjudul Class Warfare (1996), bahwa pendidikan justru membunuh kecerdasan, kepekaan moral dan kebahagiaan yang merupakan tiga ciri utama kemanusiaan. Didik dimaknai sebagai membimbing maupun mengajarkan agar manusia tidak hanya mampu mencapai kecerdasan, melainkan mampu meningkatkan kepekaan moral serta menggapai kebahagiannya. Pendidikan adalah proses dalam pengembangan pemikiran, bukan menanamkan suatu pemikiran. Namun yang terjadi adalah pendidikan berubah  menjadi proses dehumanisasi, dimana orang-orang kehilangan sisi kemanusiaannya.

Di berbagai Negara terdapat dua prinsip pendidikan yang diterapkan, yakni kompetisi dan komparasi. Keduanya bertaut erat tidak hanya di dalam menghancurkan keluhuran pendidikan, tetapi juga di dalam membunuh vitalitas kehidupan itu sendiri. Kompetisi dianggap sebagai prinsip suci yang tidak boleh dibantah. Seseorang didorong untuk berkompetisi menjadi yang terbaik dari antara kawanannya, meskipun dengan mengorbankan kebahagiaan maupun kecerdasan alami yang dimilikinya. Kompetisi menjadi tolak ukur di berbagai jenjang pendidikan. Sang juara dipuja layaknya dewa. Sementara si nomor dua dan seterusnya dianggap sebagai pecundang yang kemudian diabaikan. Pergi ke sekolah (sebagai salah satu proses pendidikan) hanya untuk memperoleh kecerdasan yang diukur dengan angka.

Prinsip kedua adalah komparasi atau perbandingan. Komparasi tidak dapat dipisahkan dari kompetisi. Di dunia pendidikan saat ini, ranking atau peringkat menjadi hal yang sangat diperhatikan. Akibatnya, seseorang tidak pernah merasa puas dan bahagia dengan dirinya sendiri. Ia selalu merasa tertekan, guna memenuhi keinginan lingkungan sosialnya, terutama dengan memenangkan kompetisi dan menjadi yang terbaik lingkungannya. Maka bukan sesuatu yang mengherankan jika banyak orang kehilangan kepekaan moral dan kebahagiaan alaminya. Inilah ironi pendidikan di abad 21.

 

Pendidikan kehilangan akar dan tujuan luhurnya.  Pendidikan saat ini hanya memiliki satu tujuan, yakni lulus ujian (baik dalam bentuk lisan maupun tertulis). Padahal, soal-soal yang diujikan seringkali tidak mencerminkan kemampuan apa adanya, melainkan hanya potret sesaat dari keadaan yang sejatinya terus berubah. Pendek kata, berbagai ujian yang dilakukan, bukan hanya tidak berguna, tetapi juga merusak karena membunuh roh hakiki pendidikan itu sendiri.

Pendidikan terjebak pada kedangkalan yang hanya mendidik orang untuk menjadi pekerja (baik di perusahaan-perusahaan maupun di organisasi pemerintah). Pendidikan pun disempitkan menjadi keterampilan praktis semata dan kepatuhan di dalam menaati perintah atasan. Di dalam pendidikan seperti ini, manusia diubah menjadi layaknya robot atau mesin yang siap bekerja ketika tombol work ditekan.

Pendidikan hanya berfokus pada kecerdasan intelektual. Hal-hal lain dalam diri manusia, seperti hasrat, emosi dan rasa, cenderung diabaikan. Akibatnya, pendidikan menghasilkan manusia-manusia berkepala, namun tanpa hati dan empati. Orang bisa menjadi begitu cerdas dan rasional, namun kejam tanpa nurani. Pendidikan harus dikembalikan ke hakekat aslinya. Ia harus mendorong rasa ingin tahu dan kreativitas di segala bidang, sambil dibalut dengan nilai-nilai kosmopolit yang universal.

Pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab para ahli ataupun praktisi pendidikan, melainkan pula merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat sebagai satu kesatuan, sebenarnya merupakan pula sebuah institusi pendidikan. Pendidikan terjadi setiap saat di dalam kehidupan bersama, melampaui sekat-sekat ruang kelas.

Pendidikan tertinggi datang dari keteladanan hidup. Rumusan moral maupun ilmu pengetahuan akan menjadi percuma tanpa keteladanan hidup yang nyata. Ketika keteladanan meredup, maka kemunafikan akan bertumbuh. Buih moral nan suci akan dibarengi dengan hasrat akan uang, kuasa dan kenikmatan seksual yang tak terbendung.

 

Sesungguhnya, pendidikan memiliki tujuan yang amat luhur. Ia membebaskan manusia dari kungkungan kebodohan dan kemiskinan. Ia menyadarkan orang akan tempatnya tidak hanya di dalam masyarakat, tetapi di dalam semesta yang tak berhingga ini. Dari kesadaran tersebut lahirlah kebahagiaan sejati di dalam diri yang tidak tergantung pada apapun.

Sayangnya, pendidikan saat ini telah melintir jauh dari hakekatnya. Ia tidak lagi mencerdaskan dan membebaskan, melainkan justru mematikan kepekaan moral dan memenjarakan pikiran. Proses pendidikan tidak lagi menjadi proses yang membahagiakan dan menyadarkan, melainkan justru menyiksa batin dan menumpulkan rasa.

 

Author: himapol

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2018 H I M A P O L | Design by ThemesDNA.com
top